Kamis, 29 Desember 2011

Letto – Lethologica


(A word for when a word loses meaning.

There is a word that explains
the effect of saying a word
repeatedly until it loses its meaning.
What is that word?
I know I’ve heard it, but can
never remember it)




Rabu, 14 Desember 2011

Sabtu, 24 September 2011

Mengenal Proses Mesin Konversi Energi


Mengenal Proses Mesin Konversi Energi

 

 
  1. Pengertian Energi

 

Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi bersifat abstrak yang sukar dibuktikan tetapi dapat dirasakan adanya. Menurut hukum Termodinamika Pertama, energi bersifat kekal. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan, tetapi dapat berubah bentuk (konversi) dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. Sebagai contoh pada proses pembakaran pada mesin mobil/motor (sistem motor pembakaran dalam), bensin satu liter dikonversi menjadi kerja yang berhasil guna tinggi, yakni menjadi energi gerak/mekanik pada mobil/motor, sehingga dapat memindahkan manusia/barang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam hal ini bensin satu liter memiliki energy dalam yang siap dirubah menjadi kerja yang berguna (availabilitas). Dengan kata lain availabilitas adalah kemampuan sistem untuk menghasilkan kerja yang berguna.

 

  1. Macam-Macam Energi
    1. Energi Mekanik
    Energi meknik merupakan energi gerak, misal turbin air akan mengubah energi potensial menjadi energi mekanik untuk memutar generator listrik.
    1. Energi Potensial
    Merupakan energi karena posisinya di tempat yang tinggi. Contohnya air waduk di pegunungan dapat dikonversi menjadi energi mekanik untuk memutar turbin selanjutnya dikonversi lagi menjadi energi listrik.
    1. Energi Listrik
    Energi Listrik adalah energi yang berkaitan dengan arus elektron, dinyatakan dalam Watt-jam atau kilo Watt-jam. Arus listrik akan mengalir bila penghantar listrik dilewatkan pada medan magnet. Bentuk transisinya adalah aliran elektron melalui konduktor jenis tertentu. Energi listrik dapat disimpan sebagai energi medan elektrostatis yang merupakan energy yang berkaitan dengan medan listrik yang dihasilkan oleh terakumulasinya muatan elektron pada pelat-pelat kapasitor.

Gambar 01. PLTA, konversi energi dari energi potensial, energy mekanik, dan energi listrik

 
  1. Energi Elektromagnetik
Energi elektromagnetik merupakan bentuk energi yang berkaitan dengan radiasi elektromagnetik. Energi radiasi dinyatakan dalam satuan energi yang sangat kecil, yakni elektron volt (eV) atau mega elektro volt (MeV), yang juga digunakan dalam evaluasi energi nuklir.
  1. Energi Kimia
Energi kimia merupakan energi yang keluar sebagai hasil interaksi elektron di mana dua atau lebih atom/molekul berkombinasi sehingga menghasilkan senyawa kimia yang stabil. Energi kimia hanya dapat terjadi dalam bentuk energi tersimpan. Bila energi dilepas dalam suatu reaksi maka reaksinya disebut reaksi eksotermis yang dinyatakan dalam kJ, Btu, atau kKal. Bila dalam reaksi kimia energinya terserap maka disebut dengan reaksi endodermis. Sumber energi bahan bakar yang sangat penting bagi manusia adalah reaksi kimia eksotermis yang pada umumnya disebut reaksi pembakaran. Reaksi pembakaran melibatkan oksidasi dari bahan bakar fosil.

Gambar 02. Accu sebagai bentuk energi kimia

 

 
  1. Energi Nuklir
Energi Nuklir adalah energi dalam bentuk energi tersimpan yang dapat dilepas akibat interaksi partikel dengan atau di dalam inti atom. Energi ini dilepas sebagai hasil usaha partikel-partikel untuk memperoleh kondisi yang lebih stabil. Satuan yang digunakan adalah juta electron reaksi. Pada reaksi nuklir dapat terjadi peluluhan radioaktif, fisi, dan fusi.

Gambar 03. Salah satu reaktor nuklir

 
  1. Energi Termal
Energi termal merupakan bentuk energi dasar di mana dalam kata lain adalah semua energi yang dapat dikonversikan secara penuh menjadi energi panas. Sebaliknya, pengonversian dari energi termal ke energi lain dibatasi oleh hukum Termodinamika II. Bentuk energi transisi dan energi termal adalah energi panas, dapat pula dalam bentuk energy tersimpan sebagai kalor "laten" atau kalor "sensible" yang berupa entalpi.

Gambar 04. Mesin konversi dari panas ke uap
  1. Energi Angin
Energi angin merupakan energi yang tidak akan habis, material utama berupa angin dengan kecepatan tertentu yang mengenai turbin angin sehingga menjadi gerak mekanik dan listrik.

Gambar 05. Pemanfaatan energi angin

 
  1. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi
Mesin-mesin konversi energi secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mesin konversi energi konvensional dan mesin energy konversi non-konvensional. Mesin konversi energi konvensional umumnya menggunakan sumber energi konvensional yang tidak terbarui, kecuali turbin hidropower, dan umumnya dapat diklasifikasikan menjadi motor pembakaran dalam, motor pembakaran luar, mesin-mesin fluida, dan mesin pendingin dan pengkondisian udara. Mesin konversi energy non-konvensional umumya menggunakan energi yang dapat diperbarui, kecuali mesin energi konvensional berbahan dasar nuklir.
  1. Motor pembakaran dalam
Motor pembakaran dalam dikembangkan oleh Motos Otto, atau Beau de Roches merupakan mesin pengonversi energi tak langsung, yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan kemudian baru menjadi energi mekanis. Energi kimia bahan bakar tidak dikonversikan langsung menjadi energi mekanis. Bahan bakar standar motor bensin adalah isooktan (C8H18). Efisiensi pengonversian energinya berkisar 30% (ηt ±30%). Hal ini karena kerugian 50% (panas, gesek/mekanis, dan pembakaran tak-sempurna). Sistem siklus kerja motor bensin dibedakan atas motor bensin dua langkah (two stroke), dan empat langkah (four stroke).
  1. Motor Bensin Dua Langkah
Motor bensin dua langkah adalah motor yang pada dua langkah torak/piston (satu putaran engkol) sempurna akan menghasilkan satu langkah kerja.
a)    Langkah kompresi dimulai dengan penutupan saluran masuk dan keluar kemudian menekan isi silinder dan di bagian bawah, piston menghisap campuran bahan bakar udara bersih ke dalam rumah engkol. Bila piston mencapai titik mati atas, pembakaran dimulai.
b)    Langkah kerja atau ekspansi, dimulai ketika piston bergerak mencapai titik tertentu sebelum titik mati atas, busi memercikan bunga api, terjadilah kerja. Pada awalnya saluran buang dan saluran masuk terbuka. Sebagian besar gas yang terbakar keluar silinder dalam proses exhaust blowdown. Ketika saluran masuk terbuka, campuran bahan bakar dan udara bersih tertekan di dalam rumah engkol, mengalir ke dalam silinder. Piston dan saluran-saluran umumnya dibentuk membelokan campuran yang masuk langsung menuju saluran buang dan juga ditunjukkan untuk mendapatkan pembilasan gas residu secara efektif. Setiap siklus mesin dengan satu langkah tenaga diselesaikan dalam satu kali putaran poros engkol. Namun sulit untuk mengisi secara penuh volume langkah dengan campuran bersih, dan sebagian darinya mengalir langsung ke luar silinder selama langkah bilas.
  1. Motor Bensin Empat Langkah
Motor bensin empat langkah adalah motor yang pada setiap empat langkah torak/piston (dua putaran engkol) sempurna menghasilkan satu tenaga kerja (satu langkah kerja).

Gambar 05. Siklus motor bensin 4 langkah

 
a)    Langkah pemasukan dimulai dengan katup masuk terbuka, piston bergerak dari titik mati atas dan berakhir ketika piston mencapai titik mati bawah. Udara dan bahan bakar terhisap ke dalam silinder. Langkah ini berakhir hingga katup masuk menutup.
b)    Langkah kompresi, diawali ketika kedua katup tertutup dan campuran di dalam silinder terkompresi sebagian kecil dari volume awalnya. Sesaat sebelum akhir langkah kompresi, pembakaran dimulai dan tekanan silinder naik lebih cepat.
c)    Langkah kerja, atau langkah ekspansi, yang dimulai saat piston hampir mencapai titik mati atas dan berakhir sekitar 45° sebelum titik mati bawah. Gas bertekanan tinggi menekan piston turun dan memaksa engkol berputar. Ketika piston mencapai titik mati bawah, katup buang terbuka untuk memulai proses pembuangan dan menurunkan tekanan silinder hingga mendekati tekanan pembuangan.
d)    Langkah pembuangan, dimulai ketika piston mencapai titik mati bawah. Ketika katup buang membuka, piston mendorong keluar sisa gas pembakaran hingga piston mencapai titik mati atas. Bila piston mencapai titik mati atas, katup masuk membuka, katup buang tertutup, demikian seterusnya..
e)    Perhitungan daya motor didasarkan pada dimensi mesin, antara lain:

 
Daya efektif    : Ne    =

 

 
Daya indikatif    : Ni    =

 

 
di mana     D    : diameter silinder (cm)
    L    : panjang langkah torak (m)
    L    : jumlah silinder
    Pe    : tekanan efek rata-rata (kgf/cm²)
    Pi    : tekanan indikatif rata-rata (kgf/cm²)
    N    : putaran mesin (rpm)
    a    :     - dua langkah a=1
    - empat langkah a=2

 

  1. Turbin
Turbin adalah mesin penggerak, di mana energi fluida kerja dipergunakan langsung untuk memutar roda turbin. Jadi, berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak, pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi. Bagian berputar dinamai stator atau rumah turbin. Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator listrik, pompa, kompresor, baling-baling atau mesin lainnya). Di dalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi, yaitu proses penurunan tekanan, dan mengalir secara kontinu. Fluida kerjanya dapat berupa air, uap air, atau gas.

Gambar 06. Turbin air

 
Turbin dilengkapi dengan sudu-sudu. Pada roda turbin terdapat sudu dan fluida kerja akan mengalir melalui ruang di antara sudu tersebut. Apabila kemudian ternyata bahwa roda turbin dapat berputar, maka akan timbul gaya yang bekerja pada sudu. Gaya tersebut timbul karena terjadinya perubahan momentum dari fluida kerja yang mengalir di antara sudu. Jadi, sudu turbin haruslah dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat terjadi perubahan momentum pada fluida kerja tersebut.

Gambar 07. Turbin gas

Gaya

GAYA


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Vektor Gaya

Gaya adalah besaran vektor, jadi dapat digambarkan dengan garis dan harus memenuhi ketentuan sbb; titik tangkap gaya, besar gaya, arah gaya.


Menentukan besarnya gaya dan garis kerja gaya

Besarnya gaya dilukiskan sebagai garis lurus dan panjang garis itu menyatakan besarnya gaya. Satuan gaya menurut SI adalah Newton (N) atau Kg m/s².

Untuk melukiskan besarnyaa gaya digunakan perbandingan / skala gaya. Misalnya, 1 cm garis menggambarkan gaya 1 newton, maka gaya sebesar 10 N digambarkan dengan garis 10 cm. Gaya dapat dipindahkan di sepanjang garis kerjanya asalkan arah dan besarnya sama.


 


 


 


 

L adalah panjang anak panah yang menurut skala menggambarkan besarnya gaya F ( vektor AB = AB ).

Menentukan arah gaya

Arah gaya dapat digambarkan sebagai anak panah.


 


 

Menentukan titik tangkap gaya

Titik tangkap gaya adalah titik tempat sebuah gaya mulai bekerja. Jadi, titik tangkap gaya dapat digambarkan dengan sebuah titik yang ditempatkan di pangkal garis gaya.


 


 


 

Titik A adalah titik tangkap gaya F yang arahnya ke kanan

Contoh soal

Lukislah sebuah vektor AB yang besarnya 100 N dan arahnya ke kiri!

Penyelesaian:

Digunakan skala gaya 1 cm = 50 N maka pada sebuah garis lurus mendatar diukur panjangnya 100 : 50 = 2 cm ( panjang garis AB 2 cm ). Titik A diujung kanan adalah titik tangkap gaya dan tanda panah di ujung kiri adalah gerak gaya.


 


 

Memindahkan gaya

Sebuah gaya F dapat dipindah tempatnya di sepanjang garis kerjanya, tanpa mengurangi pengaruh gaya tersebut terhadap benda. Misalnya, kita menarik sebuah benda dengan seutas tali (berat tali diabaikan) dengan gaya sebesar F maka apakah tali itu ditambahkan pada titik A atau B, hasilnya akan tetap.


 


 


 


 

Susunan Gaya

Apabila pada sebuah benda bekerja beberapa buah gaya ( sistem gaya ) maka sistem gaya itu dapat diganti dengan sebuah gaya lain yang pengaruhnya sama terhadap benda tersebut.

Gaya yang menggantikan beberapa buah gaya disebut gaya pengganti atau Resultan ( R ). Gaya – gaya yang digantikan disebut komponen. Mengganti beberapa gaya menjadi sebuah gaya ( R ) disebut menyusun gaya.

Menyusun gaya dapat dilakukan dengan 2 cara:

  1. Cara grafis ( melukis )
  2. Cara analisis ( menghitung )

Menyusun gaya secara grafis

  1. Beberapa buah gaya pada satu garis dan arahnya sama

    Contoh:

    Tiga buah gaya yang arah dan garis kerjanya sama, yaitu; F1 = 50 N, F2 = 40 N, dan F3 = 30 N maka arah resultannya tetap sama dan besarnya adalah jumlah dari ketiga gaya tersebut R = 50 N + 40 N + 30 N = 120 N.


     


     


     


     

  2. Beberapa buah gaya dengan arah berlawanan pada satu garis kerja

    Jika dua buah gaya bekerja dan berlawanan arahnya maka besarnya resultan adalah selisih dari kedua gaya tersebut dan arahnya mengikuti arah gaya yang lebih besar. Jika kedua gaya sama besarnya dan berlawanan arahnya maka besarnya resultan adalah nol, artinya benda dalam keadaan setimbang atau diam.

    Contoh:

    F1 = 60 N, F2 = 30 N, arahnya berlawanan, dan garis kerjanya sama maka besarnya resultan adalah:

    R = F1 – F2

    = 60 N – 30 N

    = 30 N arahnya sama dengan arah F1


     


     


     


     

        

  3. Menyusun gaya dengan metode paralelogram

    Misalnya, dua buah gaya F1 dan F2 dengan arah yang berbeda membentuk sudut ɵ, di titik A maka resultan R diperoleh dari garis sudut menyudut yang dibentuk dari jajar genjang dengan sisi – sisi F1 dan F2 serta arah resultannya adalah dari A ke R.


     


     


     


     


     

    Gaya lebih dari dua:


     


     


     


     


     


     

  4. Menyusun gaya denga metode segitiga

    Dilakukan dengan melukis segitiga dengan sisi – sisi F1 dan F2. Segitiga didapatkan dengan memindahkan salah satu gaya ke ujung gaya yang lain dan arahnya tetap.


     


     


     


     

  5. Menyusun gaya dengan metode poligon

    Yaitu dengan memindahkan gaya F2 ke ujung F1,
    F3 ke ujung F2, dan seterusnya. Gaya yang dipindahkan harus sama besar dan arahnya. Resultan adalah garis yang menghubungkan dari titik A sampai ujung gaya terakhir.


     


     


     


     


     

  6. Menyusun gaya – gaya yang bekerja pada satu bidang dengan titik tangkap sendiri – sendiri

    Ada tiga macam:

    1. Dua buah gaya yang sejajar dan searah.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Dua buah gaya yang sejajar dan arah berlawanan.


     


     


     


     


     


     


     

  2. Dua buah gaya yang tidak sejajar dan arah berlainan.


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Menyusun lebih dari dua gaya yang terletak pada sebuah bidang dengan titik tangkap sendiri – sendiri

    Batang AB ditarik oleh lima buah gaya yang tidak searah. Titik tangkapnya di C, D, E, G dan H. Untuk menentukan arah dan besarnya resultan digunakan lukisan poligon.

    Caranya:

    Menentukan titik O yang letaknya sembarang. Titik O ini dinamakan titik kutub, maka lukisan poligon disebut lukisan kutub. Anda sambungkan titik O dengan titik awal dan akhir setiap gaya yang dihubungkan di ujung dan pangkalnya dengan arah yang sesuai denga masing – masing gaya. Garis yang menghubungkan pangkal gaya F1 dengan O ditandai dengan nomor 1, garis yang menghubungkan pangkal gaya F2 atau ujung F1 dengan O ditandai dengan nomor 2, pangkal F3 atau ujung F2 dengan O ditandai dengan nomor 3 dst. Nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6 disebut jari – jari kutub. Kemudian garis nomor 1 dipindahkan sejajar memotong gaya F1 di sembarang tempat di titik I, dari titik I dibuat garis sejajar nomor 2 yang memotong gaya F2 di titik II... dst. Selanjutnya, dari titik V ditarik garis yang sejajar dengan nomor 6 hingga berpotongan dengan garis yang dibuat pertama kali sejajar nomor 1 di titik M. Kemudian dari titik M dibuat garis yang sejajar dengan garis yang dihubungkan dari pangkal F1 dan ujung F5 pada lukisan kutub. Garis yang melalui M tersebut adalah garis kerja resultan R. Garis yang melalui M tersebut memmotong AB di P. Titik P merupakan titik tangkap resultan. Besarnya resultan sama dengan panjang garis yang dihubungkan dari pangkal gaya F1 dengan ujung gaya F5.


     


     


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Menyusun Gaya secara Analisis

  1. Dua buah gaya dengan satu garis kerja dan arahnya sama

    Besarnya resultan adalah jumlah kedua gaya tersebut dan arahnya sama. Titik tangkap terletak pada garis kerja gaya tersebut.

    Misalkan:


     

    Resultan     = F1 + F2

            = 50 N + 70 N

            = 120 N


     

  2. Dua buah gaya dengan satu garis kerja dan arahnya berlawanan
  3. Dua buah gaya yang saling tegak lurus sesamanya
  4. Dua buah gaya yang bekerja pada satu titik tangkap, arahnya berbeda, dan membentuk sudut ɑ

Menguraikan Gaya secara Grafis dan Analisis


 


 


 


 

    


 

Selasa, 13 September 2011

Rabu, 10 Agustus 2011

Jumat, 03 Juni 2011

Kesehatan dan keselamatan kerja

BAB 3

MEREALISASI KERJA YANG AMAN


 

A. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktivitas pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapa pun kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sedapat mungkin dan sedini mungkin, kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/dihilangkan, atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan.

Adapun tujuan penanganan K3 adalah agar pekerja dapat nyaman, sehat dan selamat selama bekerja, sebagaimana digambarkan dalam bagan berikut :


Gambar 3 1. Hubungan antar variabel pada sistem keselamatan kerja.


 

Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut :

  1. Kelelahan (fatigue)
  2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working condition)

  3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training
  4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri
  5. Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work), pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaanpekerjaan yang harus diawali dengan "pemanasan prosedural", beban kerja (workload), dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud.

Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengauhi produktivitas kerja.

  1. Manajemen Bahaya

Aktivitas, situasi, kondisi, kejadian, gejala, proses, material, dan segala sesuatu yang ada di tempat kerja/berhubungan dengan pekerjaan yang menjadi/berpotensi menjadi sumber kecelakaan/cedera/penyakit dan kematian disebut dengan Bahaya/Resiko.

Secara garis besar, bahaya/resiko dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Bahaya/resiko lingkungan

Termasuk di dalamnya adalah bahaya-bahaya biologi, kimia, ruang kerja, suhu, kualitas udara, kebisingan, panas/termal, cahaya dan pencahayaan. dll.

  1. Bahaya/resiko pekerjaan/tugas

Misalnya : pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara manual, peralatan dan perlengkapan dalam pekerjaan, getaran, faktor ergonomi, bahan/material, Peraturan Pemerintah RI No.: 74 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), dll.

  1. Bahaya/resiko manusia

Kejahatan di tempat kerja, termasuk kekerasan, sifat pekerjaan itu sendiri yang berbahaya, umur pekerja, Personal Protective Equipment, kelelahan dan stress dalam pekerjaan, pelatihan, dsb.

Berdasarkan "derajad keparahannya", bahaya-bahaya di atas dibagi ke dalam empat kelas, yaitu :

  1. Extreme risk
  2. High risk
  3. Moderate risk
  4. Low risk

Dalam manajemen bahaya (hazard management) dikenal lima prinsip pengendalian bahaya yang bisa digunakan secara bertingkat/bersama-sama untuk mengurangi/menghilangkan tingkat bahaya, yaitu :

  1. Penggantian/substitution, juga dikenal sebagai engineering control
  2. Pemisahan/separation
  3. Pemisahan fisik/physical separation
  4. Pemisahan waktu/time separation
  5. Pemisahan jarak/distance separation
  6. Ventilasi/ ventilation
  7. Pengendalian administratif/administrative controls
  8. Perlengkapan perlindungan personnel/Personnel Protective Equipment (PPE).

Ada tiga tahap penting (critical stages) di mana kelima prinsip tersebut sebaiknya diimplementasikan, yaitu :

  1. Pada saat pekerjaan dan fasilitas kerja sedang dirancang
  2. Pada saat prosedur operasional sedang dibuat
  3. Pada saat perlengkapan/peralatan kerja dibeli.

Beberapa kata kunci yang saling berkaitan dalam penanganan masalah keselamatan kerja, termasuk bagaimana prinsip pengendalian kecelakaan kerja dilakukan, digambarkan melalui bagan berikut :


Gambar 3 2. Saling keterkaitan kata kunci dalam penanganan masalah.


 

  1. Pengendalian Bahaya Kebisingan (Noise)

Kebisingan sampai pada tingkat tertentu bisa menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia. Resiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen. Dan jika resiko ini terjadi (biasanya secara medis sudah tidak dapat diatasi/"diobati"). sudah barang tentu akan mengurangi efisiensi pekerjaan si penderita secara signifikan.

Secara umum dampak kebisingan bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu :

  1. Dampak auditorial (Auditory effects)
  2. Dampak ini berhubungan langsung dengan fungsi (perangkat keras) pendengaran, seperti hilangnya/berkurangnya fungsi pendengaran, suara dering/berfrekuensi tinggi dalam telinga.
  3. Dampak non-auditorial (Non-auditory effects)
  4. Dampak ini bersifat psikologis, seperti gangguan cara berkomunikasi, kebingungan, stress, dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keamanan kerja.

Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja :

  1. Percakapan biasa (45-60 dB)
  2. Bor listrik (88-98 dB)
  3. Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB)
  4. Gergaji mesin (110-115 dB)
  5. Musik rock (metal) (115 dB)
  6. Sirene ambulans (120 dB)
  7. Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB)
  8. Pesawat terbang jet (140 dB).

Sedangkan jenis industri, tempat kebisingan bisa menjadi sumber bahaya yang potensial bagi pekerja antara lain :

  1. Industri perkayuan (wood working & wood processing)
  2. Pekerjaan pemipaan (plumbing)
  3. Pertambangan batu bara dan berbagai jenis pertambangan logam.

Catatan :

Lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 104 dB atau kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85 dB selama lebih dari 8 jam tergolong sebagai high level of noise related risks.

Formula NIOSH (National Institute of Occupational Safety & Health) untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan bagi seorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak aman adalah sebagai berikut :


Di mana :

T    = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam menit)

L    = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya

3    = exchange rate

Bandingkan formula yang telah ditetapkan oleh NIOSH tersebut dengan formula yang masih biasa digunakan, yakni :


Di mana :

T    = waktu maksimum pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam jam)

L    = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya

5    = exchange rate


 

Seringkali seseorang mengira dirinya telah berhasil "beradaptasi" dengan lingkungan yang bising manakala tidak merasa terganggu lagi dengan "tingkat kebisingan" yang pada awalnya sangat mengganggu dirinya. Jika hal yang sama terjadi pada anda, HATIHATI ! Mungkin fungsi pendengaran anda mulai terganggu.......


 

Indikator adanya (potensi) gangguan kebisingan beresiko tinggi di antaranya :

  1. Terdengarnya suara-suara dering/berfrekuensi tinggi di telinga
  2. Volume suara yang makin keras pada saat harus berbicara dengan orang lain
  3. "Mengeraskan" sumber suara hingga tingkatan tertentu yang dianggap oleh seseorang sebagai kebisingan.

Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk resiko yang disebabkan oleh kebisingan :

  1. Penggantian (substitution)
  • Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah
  • Mengganti "jenis proses" mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah) dengan fungsi proses yang sama, contohnya pengelasan digunakan sebagai penggantian proses riveting.

Catatan :

O    Pertimbangan-pertimbangan teknis, seperti "welder qualification", welding equipment, termasuk analisis kekuatan struktur harus benar-benar diperhatikan (re-calculation).

O    Selalu ada resiko-resiko baru yang berhubungan dengan pekerjaan baru (welding), misalnya: resiko karena adanya penggunaan tenaga listrik, panas (high temperature), dan radiasi cahaya.

Karena itu perlu juga dikembangkan prosedur-prosedur baru (prinsip pengendalian administratif) untuk membantu proses minimisasi resiko kerja.


Gambar 3 3. Contoh penggantian pada teknik penyambungan logam.


 

  • Modifikasi "tempat" mesin, seperti pemberian dudukan mesin dengan material-material yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi.
  • Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja.


Gambar 3 4. Pemasangan peredam akustik.

  1. Pemisahan (separation)
    1. Pemisahan fisik (physical separation)
  • Memindahkan mesin (sumber kebisingan) ke tempat yang lebih jauh dari pekerja.
  1. Pemisahan waktu (time separation)
  • Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang pekerja untuk "berhadapan" dengan kebisingan. Rotasi pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang biasa digunakan.
  1. Perlengkapan perlindungan personnel (personnel protective equipment/PPE)
  • Penggunaan earplug dan earmuffs


Gambar 3 5. Perlengkapan perlindungan personel.


 

  1. Pengendalian administratif (administrative controls)
  • Larangan memasuki kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa alat pengaman.
  • Peringatan untuk terus mengenakan PPE selama berada di dalam tempat dengan tingkat kebisingan tinggi.

Ingat! Tidak ada jaminan bahwa semua tindakan terbebas dari resiko! Begitu sebuah resiko teridentifikasi, harus segera diambil tindakan penanggulangan.


 

  1. Pencahayaan

Pencahayaan yang baik pada tempat kerja memungkinkan para pekerja melihat objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. Selain itu pencahayaan yang memadai akan memberikan kesan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Sebaliknya, pencahayaan yang buruk dapat menimbulkan berbagai akibat, antara lain :

  1. Kelelahan mata sehingga berkurang daya dan efisiensi kerja
  2. Kelelahan mental
  3. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata
  4. Kerusakan penglihatan
  5. Meningkatnya kecelakaan kerja.

Pencegahan kelelahan akibat pencahayaan yang kurang memadai dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain :

  1. Perbaikan kontras : dengan memilih latar penglihatan yang tepat
  2. Meninggikan penerangan : menambah jumlah dan meletakkan penerangan pada daerah kerja
  3. Pemindahan tenaga kerja : pekerja muda pada shift malam.

Beberapa kata kunci dalam upaya perbaikan pencahayaan di tempat kerja secara detil dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :

  • Optimalkan pencahayaan alami
  1. Mengapa ?
    1. Cahaya alami adalah yang terbaik dan merupakan sumber cahaya yang murah, sehingga akan menghemat biaya.
    2. Pemerataan cahaya dalam tempat kerja dapat ditingkatkan melalui cahaya alami, hal ini terbukti dapat meningkatkan efisisiensi dan kenyamanan pekerja.
    3. Penggunaan cahaya alamiah merupakan gerakan ramah lingkungan.
  2. Bagaimana caranya ?
    1. Bersihkan jendela dan pindahkan sekat yang menghalangi cahaya alamiah.
    2. Ubah tempat kerja atau lokasi mesin agar dapat lebih banyak terkena cahaya alamiah.
    3. Perluas atau pertinggi jendela agar makin banyak cahaya alamiah yang masuk.
    4. Sendirikan saklar lampu pada tempat dekat jendela agar dapat dimatikan bila cahaya alamiahnya terang.
    5. Pasang genting transparan untuk menambah cahaya alamiah.
  3. Petunjuk penting :
    1. Gabungkan cahaya alamiah dengan cahaya buatan untuk meningkatkan pencahayaan tempat kerja.
    2. Cermatilah : jendela dan genting kaca akan menyebabkan cuaca panas di musim panas, atau cuaca dingin di musim dingin.
    3. Di musim panas cegah bukaan jendela dari sinar matahari langsung.
  • Gunakan warna cerah pada dinding dan langit-langit
  1. Mengapa ?
    1. Perbedaan warna akan memberikan perbedaan pantulan.

      Pantulan terbesar pada warna putih (90%), terendah pada warna hitam.

    2. Dinding dan langit-langit yang cerah akan menghemat energy karena dengan sedikit cahaya dapat meningkatkan penerangan kamar.
    3. Dinding dan langit-langit yang cerah akan membuat ruangan menjadi nyaman, sehingga kondusif untuk bekerja efisien.
    4. Permukaan warna cerah penting dalam pekerjaan teliti dan pemeriksaan.
  2. Bagaimana caranya ?
    1. Untuk mendapatkan pantulan sempurna gunakan warna paling cerah (mis. putih = 80-90% pantulan) untuk langit-langit dan warna muda (50-85% pantulan) untuk dinding.
    2. Hindari perbedaan kecerahan antara dinding dan langit-langit.
    3. Jangan gunakan bahan/cat mengkilap agar tidak menyilaukan.
    4. Atur agar langit-langit dan tata lampu dapat saling memantul sehingga pencahayaan makin merata.
  3. Petunjuk penting :
    1. Bersihkan dinding dan langit-langit secara teratur, karena debu akan menyerap banyak cahaya.
    2. Bagian atas lampu yang terbuka bukan hanya memberikan pantulan dari langit-langit, tetapi juga memberikan pencahayaan yang merata serta mencegah bertumpuknya kotoran.
    3. Warna cerah dinding dan langit-langit membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan efektif.
  • Terangi lorong, tangga, turunan, dll.
  1. Mengapa ?
    1. Tempat gelap menyebabkan kecelakaan, apalagi pada pemindahan barang-barang.
    2. Tangga, balik pintu dan gudang cenderung terlindung dan gelap karena tidak terjangkau sinar matahari, sehingga perlu perhatian pada daerah ini.
    3. Penerangan yang memadai pada tempat-tempat ini akan mencegah kerusakan bahan dan produk.
  2. Bagaimana caranya ?
    1. Bersihkan jendela dan pasang lampu.
    2. Pindahkan sekat yang menghalangi sinar masuk.
    3. Pindahkan lampu agar makin terang.
    4. Usahakan cahaya alamiah dengan membuka pintu atau memasang jendela dan genting kaca.
    5. Tempatkan saklar dekat pintu masuk/keluar lorong dan tangga.
    6. Gunakan warna cerah pada tangga agar nampak jelas.
  3. Petunjuk penting :
    1. Tata lampu adalah bagian penting dalam pemeriksaan berkala dan program pemeliharaan.
    2. Penerangan pada lorong, tangga dan gudang boleh jadi kurang daripada di ruang produksi, tetapi hal ini penting bagi keselamatan transportasi dan perpindahan orang/barang.
    3. Pasang saklar otomatis bila tangga, lorong dan gudang digunakan secara teratur, atau jika tiba-tiba mati dapat menimbulkan kecelakaan.
    4. Penerangan yang baik pada lorong dan tangga mencegah kecelakaan pekerja dan tamu, mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan citra perusahaan.
  • Pencahayaan merata mengurangi perubahan cahaya
  1. Mengapa ?
    1. Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan waktu serta menimbulkan kelelahan.
    2. Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan variasi penerangan kecil.
    3. Penting untuk mencegah kelap-kelip, karena melelahkan mata.
    4. Bayangan pada permukaan benda kerja menyebabkan hasil kerja buruk, produktifitas rendah, gangguan & kelelahan mata, dan kecelakaan.
  2. Bagaimana caranya ?
    1. Hilangkan kap, karena tidak ekonomis dan mengurangi terangnya ruang kerja.
    2. Pertimbangkan untuk mengubah ketinggian lampu dan menambah penerangan utama agar ruang makin terang.
    3. Gunakan cahaya alamiah.
    4. Kurangi zone bayangan dengan pemasangan lampu, pantulan dinding serta perbaikan layout ruang kerja.
    5. Hindari cahaya bergetar dengan menukar neon dengan lampu pijar.
  • Penerangan yang memadai menjadikan pekerjaan efisien dan aman sepanjang waktu
  1. Mengapa ?
    1. Penerangan memadai meningkatkan kenyamanan pekerja dan ruang kerja.
    2. Penerangan memadai mengurangi kesalahan dan kecelakaan.
    3. Penerangan yang memadai dan pas akan membantu pekerja mengawasi benda kerja secara cepat dan rinci sesuai tuntutan tugas.
  2. Bagaimana caranya ?
    1. Kombinasikan cahaya alamiah dan cahaya buatan.
    2. Pemasangan lampu mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan.
    3. Ubah posisi lampu dan arah cahaya agar jatuh pada objek kerja.
    4. Pertimbangkan umur pekerja, yang tua perlu penerangan lebih besar.
    5. Penerangan diatur agar lebih mudah mengamati objek.
  3. Petunjuk lain :
    1. Rawatlah tata lampu secara rutin, bersihkan lampu, reflektor, jendela, dinding, sekat, dsb.
    2. Warna dinding yang cerah memantulkan lebih banyak cahaya dan memperbaiki atmosfer ruang kerja.
    3. Periksalah kesehatan mata pekerja > 40 tahun, karena biasanya mereka berkaca mata.
    4. Usahakan penerangan yang baik dan memadai secara murah, banyak cara untuk mencapai hal itu.
  • Pasang penerangan lokal untuk pekerjaan peliti dan pemeriksaan
  1. Mengapa ?
    1. Dibanding dengan pekerjaan produksi dan kantor, pekerjaan presisi dan pemeriksaan memerlukan lebih banyak penerangan.
    2. Penerangan lokal yang memadai akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi.
    3. Kombinasi penerangan utama dan lokal akan diperoreh penerangan memadai dan mengurangi gangguan akibat adanya bayangan.
  2. Bagaimana caranya?
    1. Pasang penerangan lokal dekat dan di atas pekerjaan teliti dan pemeriksaan.
    2. Usahakan penerangan lokal mudah dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan, mudah dibersihkan dan dirawat.
    3. Gunakan neon untuk pekerjaan warna yang cermat.
    4. Pastikan kombinasi cahaya alamiah dan buatan memberikan kontras antara benda kerja dan bidang latar.
  3. Petunjuk penting :
    1. Pastikan penerangan lokal tidak mengganggu pandangan pekerja.
    2. Pada mesin yang bergetar, pasang lampu pada batang yang tegar.
    3. Gunakan kap agar tidak menyilaukan.
    4. Lampu pijar timbulkan panas, hindari ini dengan memasang lampu TL.
    5. Pemasangan lampu lokal yang tepat menghemat energi dan sangat efektif.
  • Pindahkan sumber cahaya atau pasang tabir untuk mengurangi silau
  1. Mengapa?
    1. Silau langsung atau pantulan mengurangi daya lihat orang.
    2. Silau menyebabkan tidak nyaman dan kelelahan mata.
    3. Banyak cara mengurangi silau.
  2. Bagaimana caranya ?
    1. Pasang panel display atau layar.
    2. Jangan pakai lampu telanjang (pakailah kap).
    3. Pindahlan lampu di atas kepala atau naikkan.
    4. Kurangi silau dari jendela dengan sekat, tabir, tirai, dsb.
    5. Pasang lampu lokal.
    6. Ubah arah pencahayaan.
  3. Petunjuk lain :
    1. Ganti kaca jendela dari bening ke buram.
    2. Lampu lokal dipasang sedekat mungkin dengan benda kerja.
  • Pindahkan benda mengkilap agar tidak menyilaukan
  1. Mengapa ?
    1. Silau tidak langsung sama dengan silau langsung dapat mengurangi daya lihat tenaga kerja.
    2. Membuat kurang nyaman dan kelelahan mata.
  2. Bagaimana caranya ?
    1. Kurangi pantulan dari permukaan mengkilap atau pindahkan letaknya.
    2. Gunakan penutup pada benda mengkilap.
    3. Kurangi nyala lampu.
    4. Buat latar yang terang di belakang benda kerja.
  3. Petunjuk lain :
    1. Pekerja tua lebih sensitif thd silau, sehingga perlu penerangan yang baik.
    2. Coba berbagai posisi agar diperoleh pencahayaan yang baik.
    3. Pantulan menyilaukan membuat mata lelah dan menurunkan kinerja, hindarilah hal tsb.
  • Bersihkan jendela dan pelihara sumber penerangan
  1. Mengapa ?
    1. Penerangan yang kotor dan tidak terpelihara akan mengurangi pencahayaan.
    2. Pemeliharaan dan kebersihan akan menghemat energi.
    3. Pemeliharaan akan menambah umur bola lampu.
  2. Bagaimana caranya?
    1. Bersihkan secara teratur.
    2. Petugas memadai dalam hal alat dan keterampilan.
    3. Rencanakan program pemeliharaan sebagai program terpadu.
    4. Sedapat mungkin gunakan lampu yang kapnya terbuka agar debu tidak menumpuk.
  3. Pengendalian Bahaya Pencemaran Udara/Polusi

Pengendalian bahaya akibat pencemarann udara atau kondisi udara yang kurang nyaman dapat dilakukan antara lain dengan pembuatan ventilasi yang memadai. Ventilasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis :

1. Ventilasi umum : pengeluaran udara terkontaminasi dari suatu ruang kerja melalui suatu bukaan pada dinding bangunan dan pemasukan udara segar melalui bukaan lain atau kebalikannya. Disebut juga sebagai ventilasi pengenceran.

2. Ventilasi pengeluaran setempat : pengisapan dan pengeluaran kontaminan secara serentak dari sumber pancaran sebelum kontaminan tersebar ke seluruh ruangan.

3. Ventilasi penurunan panas : perlakuan udara dengan pengendalian suhu, kelembaban, kecepatan aliran dan distribusi untuk mengurangi beban panas yang diderita pekerja.

Maksud dibuatnya sistem ventilasi adalah :

1.    Menurunkan kadar kontaminan dalam lingkungan kerja sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan pekerja yaitu di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) sehingga terhindar dari keracunan.

2.    Menurunkan kadar yang tidak menimbulkan kebakaran atau peledakan yaitu di bawah Batas Ledak Terendah (BLT) atau Lower Explosive Limit (LEL).

3.    Memberikan penyegaran udara agar diperoleh kenyamanan dengan menurunkan tekanan panas.

4.     Meningkatkan ketahanan fisik dan daya kerja pekerja.

5.    Mencegah kerugian ekonomi karena kerusakan mesin oleh korosi, peledakan, kebakaran, hilang waktu kerja karena sakit dan kecelakaan, dsb.

Adapun cara membuat sistem ventilasi terdiri dari :

  1. Secara alamiah di mana aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan alami. Terjadi karena perbedaan tekanan udara sehingga timbul angin, atau perbedaan suhu yang mengakibatkan beda kerapatan udara antara bangunan dengan sekelilingnya.



Gambar 3 6. Aliran udara pada ventilasi (1).




 


 



 

Gambar 3 7. Aliran udara pada ventilasi (2).


 

  1. Secara mekanis melalui :
    1. Aliran atau pergantian udara terjadi karena kekuatan mekanis seperti kipas, blower dan ventilasi atap.
    2. Kipas angin dipasang di dinding, jendela, atau atap.
    3. Kipas angin berfungsi mengisap atau mengeluarkan kontaminan, tetapi juga dapat memasukkan udara.


Gambar 3 8. Pengendalian udara masuk.


 

Untuk mendapatkan ventilasi udara ruang kerja yang baik perlu dicermati beberapa kata kunci sebagai berikut :

  1. Pasang sistem pengeluaran udara kotor yang efisien dan aman. Udara kotor menjadi penyebab gangguan kesehatan sehingga mengarah pada kecelakaan kerja. Selain itu juga menyebabkan kelelahan, sakit kepala, pusing, iritasi mata dan tenggorokan, sehingga terjadi inefisiensi.
  2. Optimalkan penggunaan ventilasi alamiah agar udara ruang kerja nyaman. Udara segar dapat menghilangkan udara panas dan polusi.
  3. Optimalkan sistem ventilasi untuk menjamin kualitas udara ruang kerja. Aliran udara yang baik pada tempat kerja sangat penting untuk mencapai kerja produktif dan sehat. Ventilasi yang baik dapat membantu mengendalikan dan mencegah akumulasi panas.
    1. Alat Perlindungan Diri

Secara teknis bagian tubuh manusia yang harus dilindungi sewaktu bekerja adalah : kepala dan wajah, mata, telinga, tangan, badan dan kaki. Untuk itu penggunaan alat perlindungan diri pekerja sangat penting, umumnya berupa :

  • Pelindung kepala dan wajah (Head & Face protection)
  • Pelindung mata (Eyes protection)
  • Pelindung telinga (Hearing protection)
  • Pelindung alat pernafasan (Respiratory protection)
  • Pelindung tangan (Hand protection)
  • Pelindung kaki (Foot protection)


     


Gambar 3 9. Pakaian yang memenuhi syarat keselamatan kerja.


 

  1. Kata kunci untuk pengaturan APD (Alat Perlindungan Diri)
    1. Upayakan perawatan/kebersihan tempat ganti, cuci dan kakus agar terjamin kesehatan.
    2. Sediakan tempat makan dan istirahat yang layak agar unjuk kerja baik.
    3. Perbaiki fasilitas kesejahteraan bersama pekerja.
    4. Sediakan ruang pertemuan dan pelatihan.
    5. Buat petunjuk dan peringatan yang jelas.


Gambar 3 10. Bekerja secara aman.


 

  1. Sediakan APD secara memadai.


Gambar 3 11. Bekerja secara aman.


 

  1. Pilihlah APD terbaik jika risiko bahaya tidak dieliminasi dengan alat lain.


Gambar 3 12. Bekerja secara aman.

  1. Pastikan penggunaan APD melalui petunjuk yang lengkap, penyesuaian dan latihan.
  2. Yakinkan bahwa penggunaan APD sangat diperlukan.


Gambar 3 13. Pelatihan K3.


 

  1. Yakinkan bahwa penggunaan APD dapat diterima oleh pekerja.
  2. Sediakan layanan untuk pembersihan dan perbaikan APD secara teratur.


Gambar 3 14. Penjelasan teknis pengunaan alat.


Gambar 3 15. Peminjaman alat.

  1. Sediakan tempat penyimpanan APD yang memadai.


Gambar 3 16. Rak penyimpanan alat K3.

  1. Pantau tanggung jawab atas kebersihan dan pengelolaan ruang kerja
  1. Penanganan dan Penyimpanan Bahan
    1. Tandai dan perjelas rute transport barang.


Gambar 3 17. Rute transport barang.

  1. Pintu dan gang harus cukup lebar untuk arus dua arah.


Gambar 3 18. Jalur arus dua arah.

  1. Permukaan jalan rata, tidak licin dan tanpa rintangan.
  2. Kemiringan tanjakan 5-8%, anak tangga yang rapat.


Gambar 3 19. Permukaan jalan tidak rata serta kemiringan tangga

  1. Perbaiki layout tempat kerja.


Gambar 3 20. Layout tempat kerja.

  1. Gunakan kereta beroda untuk pindahkan barang.
  2. Gunakan rak penyimpanan yang dapat bergerak/mobil.


Gambar 3 21. Rak penyimpanan barang serta keretta beroda

  1. Gunakan rak bertingkat di dekat tempat kerja.
  2. Gunakan alat pengangkat.


Gambar 3 22. Rak bertingkat serta alat pengangkat

  1. Gunakan konveyor, kerek, dll.
  2. Bagi dalam bagian kecil-kecil.


Gambar 3 23. Konveyor dan kerek.

  1. Gunakan pegangan.
  2. Hilangkan/kurangi perbedaan ketinggian permukaan.


Gambar 3 24. Pegangan serta perbedaan ketinggian

  1. Pemindahan horizontal lebih baik dengan mendorong/menarik daripada mengangkat/menurunkan.
  2. Kurangi pekerjaan yang dilakukan dengan cara membungkuk/memutar badan.


Gambar 3 25. Pemindahan horizontal serta posisi yang tidak efisien

  1. Rapatkan beban ke tubuh sewaktu membawa barang.
  2. Naik/turunkan barang secara perlahan di depan badan tanpa membungkuk dan memutar tubuh.


Gambar 3 26. Membawa barang serta naik turunkan barang

  1. Dipikul supaya seimbang.
  2. Kombinasikan pekerjaan angkat berat dengan tugas fisik ringan.
  3. Penempatan sampah.
  4. Tandai dengan jelas dan bebaskan jalan keluar darurat.


Gambar 3 27. Penempatan sampah serta jalan keluar darurat


 

  1. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran

Pertimbangan utama mengapa perlu upaya penanggulangan bahaya kebakaran adalah karena adanya potensi bahaya kebakaran di semua tempat. Kebakaran merupakan peristiwa berkobarnya api yang tidak dikehendaki dan selalu membawa kerugian. Dengan demikian usaha pencegahan harus dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran, penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil mungkin melalui perencanaan yang baik. Melalui pelatihan diharapkan peserta mampu mengidentifikasi potensi penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya pemadaman kebakaran dini.

Kebakaran terjadi akibat bertemunya 3 unsur : bahan (yang dapat) terbakar, suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2 atau udara). Untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah dengan mencegah bertemunya salah satu dari dua unsur lainnya.

  1. Pengendalian bahan (yang dapat) terbakar

Untuk mengendalikan bahan yang dapat terbakar agar tidak bertemu dengan dua unsur yang lain dilakukan melalui identifikasi bahan bakar tersebut. Bahan bakar dapat dibedakan dari jenis, titik nyala dan potensi menyala sendiri. Bahan bakar yang memiliki titik nyala rendah dan rendah sekali harus diwaspadai karena berpotensi besar penyebab kebakaran. Bahan seperti ini memerlukan pengelolaan yang memadai : penyimpanan dalam tabung tertutup, terpisah dari bahan lain, diberi sekat dari bahan tahan api, ruang penyimpanan terbuka atau dengan ventilasi yang cukup serta dipasang detektor kebocoran. Selain itu kewaspadaan diperlukan bagi bahan-bahan yang berada pada suhu tinggi, juga bahan yang bersifat mengoksidasi, bahan yang jika bertemu dengan air menghasilkan gas yang mudah terbakar (karbit), bahan yang relative mudah terbakar seperti batu bara, kayu kering, kertas, plastik, cat, kapuk, kain, karet, jerami, sampah kering, serta bahan-bahan yang mudah meledak pada bentuk serbuk atau debu.


Gambar 3 28. Pengendalian bahan bakar


 

  1. Pengendalian titik nyala

Sumber titik nyala yang paling banyak adalah api terbuka seperti nyala api kompor, pemanas, lampu minyak, api rokok, api pembakaran sampah, dsb. Api terbuka tersebut bila memang diperlukan harus dijauhkan dari bahan yang mudah terbakar. Sumber penyalaan yang lain: benda membara, bunga api, petir, reaksi eksoterm, timbulnya bara api juga terjadi karena gesekan benda dalam waktu relatif lama, atau terjadi hubung singkat rangkaian listrik.


Gambar 3 29. Pengendalian titik nyala.


 

  1. Klasifikasi kebakaran

Berdasar Permennaker No.: 04/MEN/1980 penggolongan atau pengelompokan jenis kebakaran menurut jenis bahan yang terbakar, dimaksudkan untuk pemilihan media pemadam kebakaran yang sesuai. Pengelompokan itu adalah :

  1. Kebakaran kelas (tipe) A, yaitu kebakaran bahan padat kecuali logam, seperti : kertas, kayu, tekstil, plastik, karet, busa, dll. yang sejenis dengan itu.
  2. Kebakaran kelas (tipe) B, yaitu kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar, seperti : bensin, aspal, gemuk, minyak, alkohol, LPG dll. yang sejenis dengan itu.
  3. Kebakaran kelas (tipe) C, yaitu kebakaran listrik yang bertegangan
  4. Kebakaran kelas (tipe) D, yaitu kebakaran bahan logam, seperti : aluminium, magnesium, kalium, dll. yang sejenis dengan itu.
  5. Sebab-sebab kebakaran
  6. Kebakaran karena sifat kelalaian manusia, seperti : kurangnya pengertian pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran, kurang hati-hati menggunakan alat dan bahan yang dapat menimbulkan api, kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin.
  7. Kebakaran karena peristiwa alam, terutama berkenaan dengan cuaca, sinar matahari, letusan gunung berapi, gempa bumi, petir, angin dan topan.
  8. Kebakaran karena penyalaan sendiri, sering terjadi pada gudang bahan kimia di mana bahan bereaksi dengan udara, air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar.
  9. Kebakaran karena kesengajaan untuk tujuan tertentu, misalnya sabotase, mencari keuntungan ganti rugi klaim asuransi, hilangkan jejak kejahatan, tujuan taktis pertempuran dengan jalan bumi hangus.
  10. Peralatan pemadaman kebakaran

Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran perlu disediakan peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dan cocok untuk bahan yang mungkin terbakar di tempat yang bersangkutan.

  1. Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana
    1. Air, bahan alam yang melimpah, murah dan tidak ada akibat ikutan (side effect), sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak air dekat daerah bahaya, alat yang diperlukan berupa ember atau slang/pipa karet/plastik.
    2. Pasir, bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak masuk sehingga api padam. Caranya dengan menimbunkan pada benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember.
    3. Karung goni, kain katun, atau selimut basah sangat efektif untuk menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah tangga, luasnya minimal 2 kali luas potensi api.
    4. Tangga, gantol dan lain-lain sejenis, dipergunakan untuk alat bantu penyelamatan dan pemadaman kebakaran.
  2. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

APAR adalah alat yang ringan berupa tabung, mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. Jenis APAR meliputi : jenis air (water), busa (foam), serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2, yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan lebih besar dari tekanan diluar. Konstruksi APAR sebagai berikut :


Gambar 3 30. Alat pemadam kebakaran.

  1. Alat pemadam kebakaran besar

Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara otomatis.

  1. Sistem hidran mempergunakan air sebagai pemadam api. Terdiri dari pompa, saluran air, pilar hidran (di luar gedung), boks hidran (dalam gedung) berisi : slang landas, pipa kopel, pipa semprot dan kumparan slang.
  2. Sistem penyembur api (sprinkler system), kombinasi antara system isyarat alat pemadam kebakaran.
  3. Sistem pemadam dengan gas.


Gambar 3 31. Alat pemadam kebakaran besar.

  1. Petunjuk pemilihan APAR


Tabel 3 1. Pemilihan APAR

  1. Karakteristik APAR :
    1. APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala jenis kebakaran, oleh karena itu sebelum menggunakan APAR perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar.
    2. APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat, APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar.
    3. Waktu ideal : 3 detik operasi, 10 detik berhenti, waktu maksimum terus menerus 8 detik.
    4. Bila telah dipakai harus diisi ulang.
    5. Harus diperiksa secara periodik, minimal 2 tahun sekali.
  2. Pedoman Singkat Antisipasi dan Tindakan Pemadaman Kebakaran
    1. Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan, mudah dijangkau dan mudah dilihat, tidak terlindung benda/perabot seperti lemari, rak buku, dsb. Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35 cm.
    2. Siagakan APAR selalu siap pakai.
    3. Bila terjadi kebakaran kecil : bertindaklah dengan tenang, identifikasi bahan terbakar dan tentukan APAR yang dipakai.
    4. 4. Bila terjadi kebakaran besar : bertindaklah dengan tenang, beritahu orang lain untuk pengosongan lokasi, nyalakan alarm, hubungi petugas pemadam kebakaran.
    5. Upayakan latihan secara periodik untuk dapat bertindak secara tepat dan tenang.
  3. Fasilitas Penunjang

Keberhasilan pemadaman kebakaran juga ditentukan oleh keberadaan fasilitas penunjang yang memadai, antara lain :

  1. Fire alarm secara otomatis akan mempercepat diketahuinya peristiwa kebakaran. Beberapa kebakaran terlambat diketahui karena tidak ada fire alarm, bila api terlanjur besar maka makin sulit memadamkannya.
  2. Jalan bagi petugas, diperlukan untuk petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam kebakaran, kadang harus mondar-mandir/keluar masuk mengambil air, sehingga perlu jalan yang memadai, keras dan lebar, juga untuk keperluan evakuasi.

Untuk itu diperlukan fasilitas :

  1. Daun pintu dapat dibuka keluar
  2. Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci
  3. Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit
  4. Bangunan beton strukturnya harus mampu terbakar minimal 7 jam.


     

    1. Pemeliharaan dan Penggunaan Alat-alat Perkakas

Pada dasarnya terdapat dua jenis pemeliharaan, yaitu :

  1. Preventif (pencegahan kerusakan dan keausan)
  2. Korektif (tindakan setelah timbulnya kerusakan)

Untuk pemeliharaan preventif, yang biasanya diutamakan, terdapat beberapa pedoman, yaitu :

  1. Jagalah supaya perkakas-perkakas tangan dan mesin-mesin tetap dalam keadaan bersih.
  2. Serahkanlah semua perkakas setelah dipakai, dalam keadaan bersih atau simpanlah dalam keadaan bersih, kalau itu merupakan kelengkapan mesin yang bersangkutan.
  3. Periksalah alat-alat perkakas secara teratur akan kemungkinan terjadinya kerusakan-kerusakan.
  4. Jangan membiarkan alat-alat bantu atau alat-alat ukur (kuncikunci, mistar-mistar ingsut, mikometer, dan sebagainya) berada di atas mesin yang sedang berjalan. Akibat yang mungkin terjadi :
    1. Kecelakaan
    2. Kerusakan perkakasnya
    3. Kehancuran alat perkakasnya.
  5. Lumasilah alat-alat perkakas secara teratur. Pelat-pelat kode dapat berguna sekali, ia menunjukkan setelah beberapa waktu minyak pelumasnya harus diperbaharui dan pelumasannya harus dilakukan, warnanya menunjukkan jenis pelumas apa yang harus digunakan (perhatikan petunjuk-petunjuk dari pegusaha pabriknya). Bak-bak minyak harus diisi sampai garis tandanya. Bersihkanlah ayakan-ayakan minyaknya pada waktu-waktu tertentu dan tukarlah saringan-saringannya.
  6. Perbaiki atau gantilah perkakas yang rusak.
  7. Jangan sekali-sekali menggunakan perkakas yang tumpul pada gesekan yang besar. Hal ini dapat berakibat terjadinya kehancuran bor, pahat, tap atau frais karena pembebanan yang besar pada poros-poros, bantalan-bantalan, batang-batang ulir dan mur-mur dari mesin-mesinnya.


     

Jangan lupa peraturan-peraturan keamanan. Ingatlah akan perlindungan dari bagian-bagian yang berputar, sambungan-sambungan listrik, bila perlu pakailah kacamata pengaman. Usahakanlah supaya jalan-jalan terusan tidak terhalang oleh bahan, peti-peti, dan lainnya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah periksalah kotak penyimpanan obat – obatan secara teratur pula.